Showing posts with label #me. Show all posts
Showing posts with label #me. Show all posts

Sunday, May 20, 2012

Tahapan Jatuh Cinta [Three]

Tahap 3. Menyudahinya


di dekapmu aku merasa tergenapi.
terselamatkan dari sepi yang membungkam nyali
denganmu, aku temukan teman perjalanan yang melengkapi
dimensi yang menyedot semua gravitasi




suatu hari yang hening, aku temukan nurani berteriak nyaring
kita tak bisa lagi bersembunyi, kita tak pernah ingin lari lagi
aku tak tahu harus dimana meletakkan nyeri
kecuali selesai sampai disini. 


tak ada lagi kita, tak bisa ada lagi kita


miliaran kata seolah sepakat untuk tak bisa hadir
cinta itu ingin tamat, tapi hati ini tak mau ucapkan selamat
hanya k.o.s.o.n.g 
hanya h.e.n.i.n.g
hanya pelukan panjang yang aku harap bisa mengakumulasi rindu yang segera memberontak


"sayang, bukankah sudah kuperingatkan. jangan mencintaiku sebanyak itu.
 sakitku tak ingin kubagi. rinduku biarlah aku yang mengemasi, 
 menyeretnya melawan hari tanpamu.
 tak ada yang mencintaiku seperti ini, 
 maka izinkanlah aku tetap mengenangnya seperti ini, seperti hari ini.
 ini tentang kita, dan sebentar saja aku ingin lupa....       kita tak diizinkan bersama" 


aku mencintaimu, seperti yang bisa diucapkan angin pada kincir yang menghempasnya pergi.
aku mencintaimu, seperti yang tak henti diucapkan mendung pada hujan yang membuatnya tiada. 


tak perlu sepanjang hari untuk menyadari, 
kau-lah sang sinar mentari. 


aku melepasmu pergi. menyudahi petualangan dalam mimpi. 

Tahapan Jatuh Cinta [Two]



Tahap 2. Menemukan yang Terhilang

poros jagat raya sekarang ada di badanmu. 
kemana kau pergi, kesanalah bumiku menghadap. 
rasanya salah kalau menghadirkanmu di kepala, tapi aku menikmatinya 
untuk seribu satu alasan.
tapi kenapa butuh alasan? dan tujuan? 
menikmati hangatnya matamu saja, sudah hadiah untuk miskinnya hari-hariku lalu.

sampai aku tahu ada yang berbeda.
tidak lagi 2 orang asing yang menyapa dalam keanehan
kita sudah bicara dalam bahasa yang hanya bisa dimengerti kita.
sandi-sandi morse yang seukuran cahaya mata, tak terukur kecepatannya

cukup tahu, kau sudah bersamaku. 

k.i.t.a berdua setuju untuk bertemu, di alam itu. 
sebuah limbo yang memenjarakan kita dalam waktu yang tak punya tenaga. 
hanya berotasi dalam diam yang membuat detak jantung jadi simfoni megah 
yang setiap nadanya, 
adalah bahagia. 

tak perlu hadiah kata "aku juga" 
kau hanya memberiku mata itu. 
dan setiap jengkal tubuh kini adalah bagian dari pemujaan, pengabdian, penyerahan.
cinta juga yang akhirnya menyapa, 
menyatukan yang terserak, meniadakan yang teryakini, 
menyetujui yang semula tak ada, menjadi nyata

kau..
kutemukan apa yang selama ini terhilang.





Tahapan Jatuh Cinta [One]

Tahap 1. AHA moment


dunia masih berputar di porosnya, menyelamatkan pagi, menyudahi malam
aku hanya mengikuti saputannya, melangkah tanpa masalah
matahari tahu caranya pulang pergi, udara tahu caranya menghidupi bumi
aku tahu caranya menjadi tak sepi, menggenapi nyali, menjadi hidup dengan tak ingin mati.


aku hanya satu dari banyak manusia yang tahu hidup bergulir ke satu arah : maju.
dan siapa yang tahu kalau hari ini akan berbeda
karena keputusanku untuk ada di lantai itu, hari itu, detik itu.


aku sudah lalui triliunan detik tanpa cela, dan semua terhilang dalam jejak bias tanpa cerita
siapa sangka dari sekian banyak waktu yang kita habiskan bersama,
hari ini, 
kau mencuri sebuah diantaranya.
1 detik, yang tak punya nama, selain.. AHA.


kau menghentikan rotasi bumi.


membuat kaki tertanam di lantai dan detik jatuh ke dekapan
kakiku tertanam dalam ruang, 
dan aku dilempar dalam limbo tak berbelas kasihan -namun kupertahankan.
kau merekonstruksi semua teori di kepala, kau meniadakan waktu


lewat sebuah senyuman. lewat mata yang tersembunyi. 
lewat langkah sekejap yang menghilang di koridor
lalu sudah. kau menangkap momenku. 
aha moment-ku. 


Saturday, January 14, 2012

Selamat menempuh hidup ba(r)u!!

Somewhere between 20 and 30 you'll finally will arrived on this phase of life : -people-start-asking-when-you-will-get-married phase.

Mereka mulai merasa berhak buat tahu. Atau mereka hanya jadi bagian dari norma yang mereka anggap perlu dipertahankan. Wanita-harus-segera-menikah. Atau orang-orang ini segera melabeli kamu sebagai perawan-tua. 

Gw baru sadar kenapa orang-orang pantas bilang "Selamat" buat para pengantin baru. Di balik ucapan Selamat Menempuh Hidup Baru sebenarnya terselip kalimat "Selamat ya kamu udah keluar kemungkinan dilabeli perawan-tua"
Bagi orang-orang macam ini Pernikahan jelas sebuah prestasi. 
Dan ya perayaan berupa resepsi mewah wajar banget dilakukan. 

Dan orang-orang semacam gw, berusaha menyelamatkan diri dari kenyataan ini. 
Berusaha bikin dunia yang lebih nyaman buat ditinggali. 
Tanpa harus merasa memenuhi takdir buat memuaskan rasa keingintahuan orang lain. 

Buat apa sih nikah kalau cuma ingin dikasih "Selamat"? 
Buat apa kalau cuma ingin memenuhi ekspektasi orang lain? 
Next time, you'll be alone. Maybe cry or desperately silent, regret all you did to satisfied people. Saat itu terjadi, dimana mereka? Siap-siap di depan jendela lo buat mulai nyebarin kabar kalau lo nggak bahagia.

Apa itu hidup yang lo mau?

 Kita punya PILIHAN. Untuk mendengarkan atau tidak. 
 Kita punya PILIHAN. Untuk ikut aturan mereka atau tidak. 
 Kita punya PILIHAN. Untuk menentukan seperti apa hari besok. 
Karena itulah yang membuat hari ini berbeda, karena kita tahu ada yang namanya : esok. 


 *me: chosing for not chosing (yet), and enjoy how much freedom we can taste on this Mid 20 Crisis ;)

Sunday, October 30, 2011

Me and workholic

Suatu hari saya sedang duduk di sebuah resto. Sama sahabat2 sma yang sudah seperti belahan pantat saya sendiri.
Dan seperti biasa juga, saat itu saya sambil -bekerja.
Saya disibukkan email dan bbm tanpa henti dari client. Sesekali ikut tertawa dengan candaan mereka (yang kadang saya tak perhatikan apa-pokoknya ikut saja), sesekali merengut sibuk dengan semua gadget yang saya miliki.

Sampai 1 jam kemudian, 1 teman saya pamit pulang dan tinggallah saya dan sahabat saya yang sebentar lagi menikah ini. Tanpa saya duga, dengan tenang dia bilang :

"ti, semakin lama lu kerja, semakin tinggi ekspektasi lo soal pria"

Saya yang sedang sibuk langsung menutup laptop. Serius soal ini.
Dia melanjutkan "iya sekarang lu boleh puas-puasin kerja, tapi lu harus kawin ti! Hidup lo bukan punya lo sendiri. Nyokap lo yang ngurusin nikahan orang tiap hari, pasti pengen liat anaknya nikah!"

JLEB! JLEB!

Dan saya melanjutkan diskusi tersebut sambil memvisualisasikan suatu keadaan, dimana Ibu adalah object utamanya :

Ibu nggak akan bangga dengan anak perempuannya karena bilang "iya anak saya direktur", tapi mereka bangga kalau bilang "iya cucu saya udah 2, lucu lucu, suaminya direktur (lho)"

Aaaarrrrrrgghhhhhh
Dan saya ingin menghambur ke pelukannya sambil bilang "ibu yang bilang kita nggak boleh bergantung sama lelaki!!"

*kok jadi ingin nangis*

Baik.. Baik..
Bukan karena perkara saya tidak ingin bergantung pada lelaki. Karena saya sungguh ingin berbagi hidup dengan seseorang. Tapi saya, sungguh sungguh mencintai pekerjaan saya.

Saya merasa terberkati karena diberikan talenta untuk bekerja di bidang yang saya inginkan. Dan saya pernah mencoba .. Nggak sibuk bekerja (bukan nggak kerja lho ya) dan itu tidak membuat saya bahagia! Haishhh

Saya benar-benar mencintai momen dimana saya harus memetakan satu thing to do dengan lainnya. Saya mencintai saat saat tenggelam dalam kesibukan dan melontarkan ide saya dengan percaya diri. Saya ingin pria yang saya jatuh cintai, juga jatuh cinta pada bagian diri saya itu.

Saya (merasa) workholic.
Dan bahagia bertemu dengan orang yang bisa jatuh cinta juga dengan pekerjaannya.

Karena bersamanyalah, saya akan merasa hebat bila bicara. Saya akan merasa dia bisa mengerti dan menerima sebagian diri saya ini, dan ia dengan senang hati mendiskusikan pekerjaannya dengan saya, tanpa merasa saya keberatan mendengarkannya.

Saya akan jatuh cinta pada orang yang mencintai diri saya apa adanya, dan bangga atas pencapaian saya, bukan sebaliknya.

Dan anekdot dari teman saya menemani inspirasi saya dalam melihat pria :
"someone who loves you enough to discuss Project while having a sex with you"

Bhahahahahahahahaha NOTED!!