Showing posts with label hidup. Show all posts
Showing posts with label hidup. Show all posts

Friday, August 24, 2012

[PART 2] kewarasan



saat kupikir aku sudah di titik terendah,
dan semua pertanyaan seolah buntu dan menggantung habis,
aku menemukan satu pertanyaan tersisa
“lalu sekarang apa?”

aku tercengang mendapati banyaknya hal yang indah bersamamu
dan tersentuh dengan banyaknya cara kau melengkapi hidupku
tapi, itu ‘sudah’
kau sudah datang, melaksanakan misimu
aku sudah datang, mendapatkan pelajaranku
Tuhan sudah selesai, mempertemukan takdir kita, dan Tuhan sudah tahu kemana akan membawanya

lalu
sekarang
apa?

Kalau Tuhan ingin sesuatu untuk k.i.t.a , Ia sudah lakukan segalanya
Kalau semesta ingin ubah satu dua hal lewat k.i.t.a, ia sudah dapatkan
Misi k.i.t.a sudah selesai, dear

Aku sudah mendapatkanmu, dalam ukuran partikel yang PANTAS aku dapatkan
Aku sudah mencintaimu, dengan setiap mampu yang BISA aku berikan
Kau sudah membawaku pergi dari titik dulu, ke hari ini
Kau sudah mengajariku terbang, membumi, benderang..

Kini, Aku yang akan mengajarimu terbang
Tinggalkan aku, pergilah dari jagat rayaku.
Buktikan padaku, kau pantas dibanggakan, sebagai masa lalu

Karena,
Aku punya jagat raya untuk ditemukan
Aku punya bumi untuk ditinggali
Aku punya sayap, pemberianmu, untuk terbang semakin tinggi
Aku punya hati sebesar dunia,
Untuk membuatnya selalu tinggal,
Menjaganya
Membuatkannya cinta terbaik yang aku bisa

K.A.M.I akan bertemu di frekuensi paling sempurna
K.A.M.I akan menawar nasib
K.A.M.I akan bertukar takdir

K.A.M.I akan melanjutkan hidup.




Thursday, August 23, 2012

[PART 1] ketidakwarasan.



Kemenangan terbesar hati atas otak, adalah waktu bangun pagi
Waktu udara sepertinya punya zat yang memfilter segalanya,
Menjadi jelas, mudah terbaca.
Saat itulah aku tahu,
seberat itu aku sudah patah hati.

Aku hanya bisa benamkan kepala di bawah bantal
Berharap gelap membawa wajahnya pergi
Tapi tanpa perlu mengemis pada otak,
Memori sudah membuatnya datang lagi, lagi, lagi

Lalu aku coba meraba pelan-pelan
Seberapa sakit itu sudah terasa
tanpa merasa perlu kasihan,
Ia hadir lagi di hantaman keras sepotong kesimpulan :

Dia sudah pergi.

/
/
/
/

Lalu jam, menit dan detik sepakat berhenti
Memberikan impuls otak untuk memilah dan meyakini
Bahwa cinta untuknya pernah sebesar dunia
Bahwa cinta padanya pernah membuatku merasa begitu sempurna
Dan cinta itu sudah dikemasinya pergi

Dan cinta yang sama, membunuhku dalam s.e.p.i

Berhari-hari..
Berbulan-bulan..
Bertahun-tahun..

Apa yang harus kulakukan dengan kenyataan,
Bahwa kau hadir di setiap partikel mimpi?

Kau cukup ADA, dan semuanya terasa lengkap dan baik-baik saja

Bagian yang paling sulit,
Adalah merelakanmu menjadi satu dari milyaran manusia
Dari ‘kelak’ menjadi kata ‘pernah’ dan ‘tamat’
Bagaimana aku bisa mengekstraksi mimpi,
Meniadakan namamu, dan mulai dari awal lagi?





dear, kumohon, kembalikan hatiku.



Monday, June 20, 2011

Part 0: Takdir


...........................

Suatu hari saya tiba-tiba disibukkan dengan segala sesuatu soal hidup. Soal yang jelas terbaca sampai yang para filsuf pertanyakan. Soal Tuhan, soal waktu, soal takdir.


Waktu. Membuktikan Tuhan itu ada.

Tuhan. Membuat kita percaya takdir itu nyata.


Destiny. Adalah satu kata yang merangkum plot film Slumdog Millionaire. Saya tahu Tuhan merancang takdir tanpa prediksi.


Tak ada yang perlu diprediksi ketika Tuhan membuat itu PASTI terjadi. Itulah takdir.



Takdirlah yang mengantar kita jadi manusia-manusia yang saling melengkapi hidup satu sama lain. Kita lahir dengan misi-misi tertentu untuk merubah hidup orang lain, dari hal kecil seperti tempat duduk saat di bus sampai mengakhiri hidup seseorang. Sounds creepy ya? Tapi kalau takdir seseorang dibunuh, bukannya ada orang yang takdirnya membunuh? Kalau ada takdir orang ditinggalkan, bukannya ada orang yang takdirnya meninggalkan?



-lalu terselip pertanyaan janggal, adakah Tuhan menakdirkan seseorang menjadi jahat? Dan keputusanNya kah membuat hidup seseorang beralasan untuk masuk neraka? (to be discuss.. anyway)



Waktu saya membaca kompleksitas kita sebagai manusia sosial, saya disadarkan bahwa hidup ini terjadi bukan untuk kita sendiri. Ada takdir-takdir lain yang diminta-Nya berpotongan di satu titik. Kadang bukan cuma untuk memberi kita pelajaran, tapi juga misi kita untuk merubah hidup satu dua orang.


jadi pada dasarnya, tak ada orang yang benar-benar jahat

dan juga tak ada orang yang benar-benar baik


kita hanya bidak-bidak kecil untuk bermain, jadi, mari bermain..

Tuhan tahu, siapa yang sedang ia perhatikan :)