Saturday, December 31, 2011

a date with the heart


Kalau kita masih bertemu lagi.
Mungkin karena hati kita masih saling mencari.

Jadi di tengah mendung senja ini, kuajak hati minum teh dan bicara.
Kubilang padanya sudahi semua rasa buatmu yang pernah ada.

Aku tak ingin ketika aku kelak sedang bercinta dengannya,
Matamu lah yang kutemukan disana.




*dari blog seorang kawan

me : jangan izinkan aku meninggalkanmu, kalau yang kutahu untuk mendefinisikan rindu, hanya namamu.

Sunday, December 4, 2011

surat untuk djatya

kau tak tahu kenapa orang ingin menikah
setelah apa yang kau lihat dari sebuah pernikahan, kata 'bahagia' ternyata hanya bagian dari drama
kau tak tahu sekarang apa cinta bisa menyembuhkan
karena semua yang sudah kau rasa, itu hanya menyakiti dan membuatmu lemah
kau tidak begitu yakin seberapa kau ingin bersahabat lagi dengan ritual agama
karena Tuhan sangat dekat sampai kau tak tahu lagi apa kau ingin bersahabat atau meninggalkanNya

sekarang kau tahu, betapa sakitnya dirimu.

karena kau mempertanyakan semua hal, sebanyak kau mulai mengabaikan semua hal.
cinta kadang masih mengusikmu di suatu tempat. Tapi kau ragu, apakah itu cukup untuk membuatmu percaya lagi,
pada segalanya..

pada pernikahan (yang entah sampai kapan akan mengejar kakimu untuk terikat di dalamnya)
pada cinta (yang entah sampai kapan membuatmu cukup lemah, untuk menyerah)
pada Tuhan (yang entah sampai kapan bisa kau abaikan, ketika ia jelas-jelas hadir setiap saat)

hati nurani. yang sudah tak kau hiraukan lagi untuk banyak alasan. Karena ia mengatakan apa yang tak ingin kau dengar, atau se-sederhana -apa yang dikatakannya hanya akan membuatmu merasa tersesat dan tak tahu jalan pulang.

jadi kau memutuskan untuk menikmati ketersesatan ini. atas nama definisi bahagia yang terasa abstrak.

hanya menunggu..
dan menunggu..
sampai momen itu datang, membetulkan semua pada tempatnya
mengembalikan apa yang terhilang
dan mengizinkanmu, kembali pulang..

aku merindukanmu, tya.

Sunday, October 30, 2011

Me and workholic

Suatu hari saya sedang duduk di sebuah resto. Sama sahabat2 sma yang sudah seperti belahan pantat saya sendiri.
Dan seperti biasa juga, saat itu saya sambil -bekerja.
Saya disibukkan email dan bbm tanpa henti dari client. Sesekali ikut tertawa dengan candaan mereka (yang kadang saya tak perhatikan apa-pokoknya ikut saja), sesekali merengut sibuk dengan semua gadget yang saya miliki.

Sampai 1 jam kemudian, 1 teman saya pamit pulang dan tinggallah saya dan sahabat saya yang sebentar lagi menikah ini. Tanpa saya duga, dengan tenang dia bilang :

"ti, semakin lama lu kerja, semakin tinggi ekspektasi lo soal pria"

Saya yang sedang sibuk langsung menutup laptop. Serius soal ini.
Dia melanjutkan "iya sekarang lu boleh puas-puasin kerja, tapi lu harus kawin ti! Hidup lo bukan punya lo sendiri. Nyokap lo yang ngurusin nikahan orang tiap hari, pasti pengen liat anaknya nikah!"

JLEB! JLEB!

Dan saya melanjutkan diskusi tersebut sambil memvisualisasikan suatu keadaan, dimana Ibu adalah object utamanya :

Ibu nggak akan bangga dengan anak perempuannya karena bilang "iya anak saya direktur", tapi mereka bangga kalau bilang "iya cucu saya udah 2, lucu lucu, suaminya direktur (lho)"

Aaaarrrrrrgghhhhhh
Dan saya ingin menghambur ke pelukannya sambil bilang "ibu yang bilang kita nggak boleh bergantung sama lelaki!!"

*kok jadi ingin nangis*

Baik.. Baik..
Bukan karena perkara saya tidak ingin bergantung pada lelaki. Karena saya sungguh ingin berbagi hidup dengan seseorang. Tapi saya, sungguh sungguh mencintai pekerjaan saya.

Saya merasa terberkati karena diberikan talenta untuk bekerja di bidang yang saya inginkan. Dan saya pernah mencoba .. Nggak sibuk bekerja (bukan nggak kerja lho ya) dan itu tidak membuat saya bahagia! Haishhh

Saya benar-benar mencintai momen dimana saya harus memetakan satu thing to do dengan lainnya. Saya mencintai saat saat tenggelam dalam kesibukan dan melontarkan ide saya dengan percaya diri. Saya ingin pria yang saya jatuh cintai, juga jatuh cinta pada bagian diri saya itu.

Saya (merasa) workholic.
Dan bahagia bertemu dengan orang yang bisa jatuh cinta juga dengan pekerjaannya.

Karena bersamanyalah, saya akan merasa hebat bila bicara. Saya akan merasa dia bisa mengerti dan menerima sebagian diri saya ini, dan ia dengan senang hati mendiskusikan pekerjaannya dengan saya, tanpa merasa saya keberatan mendengarkannya.

Saya akan jatuh cinta pada orang yang mencintai diri saya apa adanya, dan bangga atas pencapaian saya, bukan sebaliknya.

Dan anekdot dari teman saya menemani inspirasi saya dalam melihat pria :
"someone who loves you enough to discuss Project while having a sex with you"

Bhahahahahahahahaha NOTED!!

Sunday, September 11, 2011

being chinese..

hal ini udah berkubang lama di pikiran gue.

being chinese..

dari gue kecil, gue udah biasa denger candaan orang jawa "kasihan kecil-kecil udah cina".

tapi entah gimana, bahkan dari kecil gue justru ingin mengidentifikasi diri gue sebagai cina. gue sering ngaca, nyipit-nyipitin mata dan bilang "ah aku kan juga mirip cina" karena nyokap gue mudanya memang kayak cina, dan kakek nenek gue juga tuanya masih mirip cina.


semakin gue besar, semakin gue mengerti kenapa orang cenderung mendiskrimasikan cina. dan justru betapa gue ingin membuktikan sebaliknya. maka mulailah pemikiran ini, bahwa


yes, i wanna marry a chinese.

gue ingin tahu kebudayaan cina. dengan warna merahnya yang indah dan ritual-ritualnya, nikah, upacara kematian, kremasi, nama cina..


gue ingin bisa melebur dalam perbedaan yang indah. karena menjadi berbeda itu sebuah anugrah. gue ingin punya keluarga yang majemuk, dengan banyak budaya yang bisa dipelajari (karena gue menghormatinya) dan ingin menjadi bagian di dalamnya ya.

seseorang dengan latar belakang keluarga chinese yang kental pasti nggak serta merta akan ngizinin seorang jawa berjilbab buat jadi bagian mereka. Tapi gue yakinin aja, bahwa pasti ADA! karena liat aja, waktu nikah, ceweknya juga 'ditutupin' kok.. hehehe #usaha
:woooh:


dan gue mengkasihani orang yang nggak bisa hidup dengan perbedaan. betapa indahnya perbedaan ketika kita bisa melihat semua dari sisi baiknya. betapa banyak hal menarik yang belum pernah kita temukan dan betapa penemuan itu justru bisa membuat kita semakin erat.

buat lo yang chinese, seeeeeeeeee? ADA LHO ORANG YANG KAYAK GUE!! yang justru ingin jadi bagian kalian, dan punya marga kalian. Berbanggalah dengan budayanya, tersenyumlah dengan perbedaannya dan yakinilah bahwa semua manusia itu sama..

nggak semua chinese itu jahat, seperti nggak semua Jawa itu baik dan terpercaya. nggak semua chinese itu pelit, orang padang juga katanya iya. nggak semua chinese itu mendiskriminasi pribumi, karena sebagian justru jatuh cinta.

dan seorang anak perempuan pun muncul di kotak visi gue tentang anak gue kelak..

dan gue berharap, ia akan punya sebuah marga Tionghoa.


Saturday, September 10, 2011

Kenalin, ini suami saya

sebagai anak ahensi, shooting ibarat pizza di kala tiap hari biasa makan warteg (literally sih).. pokoknya shooting itu kerja yang bisa hura-hura. yeah! bagi gue yang memutuskan buat pindah ke jalur digital, gue nggak nyangka bisa ikut shooting lagi..

well, i'm here today.. shooting location! dan betapa menyenangkannya bisa bersenang-senang ngatur orang, makan banyak, internetan, baca buku sambil tetep .. dibayar!!

(tya..... kepanjangan dah intronya!):galit:

ok.. ok.. :argh: emang bukan itu yang mau gue ceritain.
hari ini, ada 1 kalimat yang jadi terngiang-ngiang sama gue sampai sekarang. bukan karena singkatnya kalimat itu, tapi karena timing dan konteksnya yang menohok hati.


..........
bos gue -my favorite career woman so far- yang datang dari pagi, setelah makan siang nggak keliatan. kemudian dia datang dengan muka yang sumringah dan di belakangnya seorang pria mengikuti.

bos gue ini langsung ngampirin kami yang lagi duduk santai dan bilang sebarisan kalimat yang jadi sabab musabab gue nulis blog ini. dia bilang :
"kenalin.. ini suami saya." ---- dengan nada datar yang seolah tanpa emosi
suami saya. suami saya. suami saya. suami saya.
su..a..mi sa..ya (ya! ya! tya we got it) :yawn: :yawn:

see? "ini suami saya" yang menohok hati gue sampai jam segini.
gue bukan cuma mendengarnya secara vokal dan deretan alfabet i-n-i s-u-a-m-i s-a-y-a, tapi gue mendengar nada yang nggak pernah gue denger di kalimat apapun yang pernah diucapin bos gue ini di beberapa jam sehari pertemuan kami di kantor.

ya, gue dengan jelas mendengar sebuah kebanggaan di dalamnya, pengakuan, keterikatan (attached) bahkan pujian!!

dan seketika bos gue muncul dengan konteks yang nggak pernah gue liat sebelumnya : "belong to somebody"

DAMN!!!!!
body language nya langsung berubah, bahkan cara duduknya waktu duduk di samping suaminya. (bahkan dia sendiri mungkin nggak sadar) tapi gue melongo. terngiang-ngiang kalimat pertama yang dia ucapin tadi "ini suami saya.."

mungkin memang sense itu yang sebenarnya dia ucapin waktu kenalin suaminya tadi bahwa "i'm belong to somebody" dan gue tertohok betapa kata "will you marry me" adalah sebuah hadiah buat seorang perempuan yang dicintai.

yeah, somewhere, somehow sense "attached to something" adalah sebuah perasaan yang diinginkan setiap orang. Ada kecenderungan kita untuk menginginkan sesuatu yang pasti untuk tempat kembali "pulang", diandalkan, dituju, dinanti.

gue inget satu statement nanceb ini sampai sekarang "a career is wonderful, but you cant curl up with it in a cold night"
:sweaty:


bahkan untuk orang yang nggak ingin terikat, dia pasti mengikatkan diri pada sesuatu. pekerjaan, passion, hobi. anything. karena tanpa itu, hidup rasanya flat kayak dada gue *hush*.. yeah hidup rasanya hambar tanpa bumbu. Bahkan seorang petualang pun pada akhirnya butuh rumah....

dan gue masih merinding dengan kalimat itu sampai sekarang "kenalin. ini suami saya"
dan hanya bisa membayangkan, pria seperti apa yang cukup beruntung untuk ada di samping gue, waktu gue mengucapkan kalimat itu.

source: favim.com

Thursday, September 8, 2011

Pagi ini (kagum)



Pagi ini,

Aku terbangun dengan senyummu yang mencuri

Aku terbangun dengan bahagia aneh yang menampar hati

Aku terkesima oleh perasaan lucu,


Bahwa ternyata kau hadir dalam mimpi ekslusif yang tak terbagi lain

Ternyata sudah sebanyak itu, senyum itu menjinakkanku

Dan ternyata tak satupun dari itu bisa mewakili namanya untuk kubuatkan judul.


Ah,

Sepertinya ini mudah

Aku hanya (baru saja mulai) mengagumi.



Ah tidak, jangan sebut cinta.

Aku sudah tak tahan dengan kecewa yang selalu dibawakannya..

Tapi sungguh kalau aku bisa meminta

Beginilah akhir mimpi yang kuingini..





oh no!! i think i'm....

Friday, September 2, 2011

Betapa saya cinta keluarga!!

i love my family.
i called them : bapak, ibu, kiki and rian.

kalau orang mau nyombongin rumah mewah atau mobil yang bisa dikumpulin, saya rasanya ingin sombong soal kehangatan keluarga saya. hehehe.. penghuni rumah mungil di Cihanjuang, Cimahi Utara.

saya tidak dilahirkan di keluarga kaya. kami tak pernah punya mobil dan rumah bagus. tapi karena itulah, kami berkumpul di depan 1 TV, di 1 ruangan kecil, dengan canda tawa yang mengalahkan handphone secanggih apapun.

Bapak, nggak pernah mengantar saya ke sekolah atau mengambil raport. Tapi ia adalah pria kebanggaan saya. Badannya yang tinggi besar gagah berpadu dengan wajahnya yang awet muda. bapak tipe pria yang nggak segan-segan menghajar pria yang menyakiti anaknya. hahaha (pemegang sabuk hitam Karate yang pernah bikin orang gegar otak ini, sekarang juga nggak segan-segan manja gelendotan di punggung Ibu -_________-)


Ibu, super woman. Ibu mana lagi yang kuat mengangkat galon tapi juga punya masakan balado terong ter-enak sedunia? (apapun yang diolah tangan Ibu kayaknya enak deh) penyuka film Korea ini emang keras kepala tapi beliau adalah orang paling nggak egois yang saya kenal! apapun yang beliau lakukan, selau untuk kepentingan kami.. tapi nyebelin kalau beliin Ibu baju, adaaaaa aja yang beliau komentarin "iih! kamu beli berapa nduk? ibu bisa nawar lebih murah nih!" zzzz...


kiki, my very very bestfriend. hobi tukeran baju sampai pakaian dalam.. hehe sukanya cowok yang item dan bercita-cita kerja sejauh mungkin dari Jawa. cita-citanya jadi penulis dan sampa sekarang saya masih melihat korelasi gaya tulisannya dengan gaya tulisan saya (cek aja www.myolivetree.tumblr.com)


rian, my very very bestenemy. mau 17 tahun September ini. namanya: Rian Jatiawang, sebenarnya adalah singkatan dari Rijatmoko Anna Jatianing Nawang (nama sekeluarga) hehehe... cuma sms kalau lagi butuh duit -____-" yang paling ingin saya banggakan dari dia adalah: dia LAKI BANGET! gitarist band punk yang mukanya lebih mirip personel SM*SH ini, digila-gilai wanita tapi cuma setia sama 1 Inda (uhuy!)


kalau udah kumpul berlima, waktu Bapak bisa dengan leluasa merayu Ibu dan Rian gangguin Kiki sampai teriak-teriak, adalah momen yang nggak bisa tergantikan dengan belanja di tempat semahal apapun! detik demi detiknya selalu manis buat terekam di memori.

sejak tinggal di Jakarta, saya memang jarang bisa merasakan kehangatan itu lagi. makanya momen-momen liburan kayak gini nih yang bisa dipuas-puasin buat jadi anak kecil lagi, yang teriak-teriak, ketawa-ketawa, menggila, jungkir balik ;p

karena sampai kapanpun, ternyata Rezki Jatianing Warni, adalah 'Mbak' nya bapak, 'i'-nya ibu, 'Kakak'-nya Kiki dan 'Mbak Tya'-nya Rian :)

rumahku, kalian suka citaku
dan yang mengingatkanku,
dengan alasan apa Tuhan menghadirkanku ke dunia
karena sebanyak cinta bisa kurasa, selama itulah aku ingin kalian selalu ada.

....love you Pak, love you Bu, love you Ki, love you An.