
Kalau kita masih bertemu lagi.

Suatu hari saya sedang duduk di sebuah resto. Sama sahabat2 sma yang sudah seperti belahan pantat saya sendiri.
Dan seperti biasa juga, saat itu saya sambil -bekerja.
Saya disibukkan email dan bbm tanpa henti dari client. Sesekali ikut tertawa dengan candaan mereka (yang kadang saya tak perhatikan apa-pokoknya ikut saja), sesekali merengut sibuk dengan semua gadget yang saya miliki.
Sampai 1 jam kemudian, 1 teman saya pamit pulang dan tinggallah saya dan sahabat saya yang sebentar lagi menikah ini. Tanpa saya duga, dengan tenang dia bilang :
"ti, semakin lama lu kerja, semakin tinggi ekspektasi lo soal pria"
Saya yang sedang sibuk langsung menutup laptop. Serius soal ini.
Dia melanjutkan "iya sekarang lu boleh puas-puasin kerja, tapi lu harus kawin ti! Hidup lo bukan punya lo sendiri. Nyokap lo yang ngurusin nikahan orang tiap hari, pasti pengen liat anaknya nikah!"
JLEB! JLEB!
Dan saya melanjutkan diskusi tersebut sambil memvisualisasikan suatu keadaan, dimana Ibu adalah object utamanya :
Ibu nggak akan bangga dengan anak perempuannya karena bilang "iya anak saya direktur", tapi mereka bangga kalau bilang "iya cucu saya udah 2, lucu lucu, suaminya direktur (lho)"
Aaaarrrrrrgghhhhhh
Dan saya ingin menghambur ke pelukannya sambil bilang "ibu yang bilang kita nggak boleh bergantung sama lelaki!!"
*kok jadi ingin nangis*
Baik.. Baik..
Bukan karena perkara saya tidak ingin bergantung pada lelaki. Karena saya sungguh ingin berbagi hidup dengan seseorang. Tapi saya, sungguh sungguh mencintai pekerjaan saya.
Saya merasa terberkati karena diberikan talenta untuk bekerja di bidang yang saya inginkan. Dan saya pernah mencoba .. Nggak sibuk bekerja (bukan nggak kerja lho ya) dan itu tidak membuat saya bahagia! Haishhh
Saya benar-benar mencintai momen dimana saya harus memetakan satu thing to do dengan lainnya. Saya mencintai saat saat tenggelam dalam kesibukan dan melontarkan ide saya dengan percaya diri. Saya ingin pria yang saya jatuh cintai, juga jatuh cinta pada bagian diri saya itu.
Saya (merasa) workholic.
Dan bahagia bertemu dengan orang yang bisa jatuh cinta juga dengan pekerjaannya.
Karena bersamanyalah, saya akan merasa hebat bila bicara. Saya akan merasa dia bisa mengerti dan menerima sebagian diri saya ini, dan ia dengan senang hati mendiskusikan pekerjaannya dengan saya, tanpa merasa saya keberatan mendengarkannya.
Saya akan jatuh cinta pada orang yang mencintai diri saya apa adanya, dan bangga atas pencapaian saya, bukan sebaliknya.
Dan anekdot dari teman saya menemani inspirasi saya dalam melihat pria :
"someone who loves you enough to discuss Project while having a sex with you"
Bhahahahahahahahaha NOTED!!
yes, i wanna marry a chinese.
seseorang dengan latar belakang keluarga chinese yang kental pasti nggak serta merta akan ngizinin seorang jawa berjilbab buat jadi bagian mereka. Tapi gue yakinin aja, bahwa pasti ADA! karena liat aja, waktu nikah, ceweknya juga 'ditutupin' kok.. hehehe #usaha
dan gue berharap, ia akan punya sebuah marga Tionghoa."kenalin.. ini suami saya." ---- dengan nada datar yang seolah tanpa emosisuami saya. suami saya. suami saya. suami saya.
Aku terbangun dengan senyummu yang mencuri
Aku terbangun dengan bahagia aneh yang menampar hati
Aku terkesima oleh perasaan lucu,
Bahwa ternyata kau hadir dalam mimpi ekslusif yang tak terbagi lain
Ternyata sudah sebanyak itu, senyum itu menjinakkanku
Dan ternyata tak satupun dari itu bisa mewakili namanya untuk kubuatkan judul.
Ah,
Sepertinya ini mudah
Aku hanya (baru saja mulai) mengagumi.
Ah tidak, jangan sebut cinta.
Aku sudah tak tahan dengan kecewa yang selalu dibawakannya..
Tapi sungguh kalau aku bisa meminta
Beginilah akhir mimpi yang kuingini..
rumahku, kalian suka citaku
dan yang mengingatkanku,
dengan alasan apa Tuhan menghadirkanku ke dunia
karena sebanyak cinta bisa kurasa, selama itulah aku ingin kalian selalu ada.