Sunday, June 3, 2012

Kehilangan Sahabat [DUA]


Kalau hidup adalah tentang chapter-chapter buku.
Chapter 1 ku adalah tentang belajar membaca, menulis, matematika, jatuh cinta dan patah hati.

CHAPTER 2, menemukanmu.
… rasanya selalu ada titik di akhir sebuah kalimat jawaban. Tapi milikmu, selalu berakhir dengan tanda tanya?


Subuh masih menggantung saat kau selesaikan lagu lirih di gitar kesayangan. Aku terkantuk-kantuk di penghujung kasur. Disana, di depan pintu, kau merasakan sesapan terakhir sebatang rokok sebelum menghempaskan abu terakhirnya ke tempat sampahku.

Saat aku memandangmu, memikirkan jutaan kalimat yang tercipta begitu saja, kau sedang memandang langit subuh. Entah untuk siapa?

“makasih, lo bikin gw kayak hari ini”
“salah, gw yang makasih, tanpa lo gw nggak akan kayak hari ini”
dan kalimat kita terjun bebas di keheningan panjang setelah sibuk berceloteh selama 2 jam di sambungan telpon seluler. 1 jam cuma 1000.

Aku tak mengerti kenapa jawaban itu seperti sihir yang membekukan jam. Aku nyaris lupa, kita ini siapa?

Mulanya obrolan yang akan bertahan sampai perut lapar
Disambung telpon panjang berjam-jam
Kemudian rentetan huruf lewat pesan
Lalu sesekali menyapa di social media,

Sampai aku kirim 4 kata, hari ini
“hai ….., ini tya”
dan tak melahirkan jawaban.

Kupikir,
Kau, tetap sebuah, pertanyaan? 


Kehilangan Sahabat [SATU]


Bandung pagi ini,
melahirkan aku ke dalam subuh yang menyakiti
hirup basah udara yang impulsnya mengangkat nyali pergi
memunculkan setiap jengkal kenangan, yang ternyata pernah ada, pernah terjamah di sebuah tempat bernama hati

muncullah seketika,
seorang aku, yang pernah muda dan tak tahu dunia selain semua yang dibawakanmu ke hadapannya. 

,,
yang ada di dalam kosannya, bersamamu.

kita pernah menjadi Sherlock Holmes & dr. Watson
pernah jadi Nobita & Doraemon
pernah jadi Sunlight dan Scotch Brite, atau Gayus dengan wignya

................... 

pernah jadi 2 orang yang duduk di kaki Manglayang sesaat sebelum tahun baru.
itu kita, bro.

kita sudah tumbuh berlainan. kita sekarang berjauhan. menggenapi kisah tentang 2 orang yang tak sadar sudah berpisah.. terlalu lama. aku tak tahu sejak kapan, aku tak pernah berusaha memperhatikan. kau pelan-pelan menjauh dari pandangan-baik virtual atau kenyataan. kita tak lagi jadi 2 orang yang saling duduk menyapa, mengajukan pertanyaan dan jawaban bergantian. 

tidak ada lagi kita.

kau tumbuh jadi pribadi yang bersebrangan. punya argumen yang teramat memuakkan, menjadi sosok -seolah sempurna- yang mengganggu pikiran. berbicara semua hal yang tak pernah ingin kudengar. bersahabat dengan orang yang paling ingin kutiadakan eksistensinya. kau sudah pergi jauh dari kesejiwaan. kau melangkah keluar dari kesemua-samaan. kau orang asing yang -kuminta- bisa terlupakan.

tapi ternyata tidak.

karena aku mengkangenimu, bro. karena aku harus jujur, membutuhkan tamparanmu. karena aku harus jujur, masih berharap jadi bagian hidupmu. jadi sejarah panjang di takdirmu. jadi tujuan di suatu pagimu. 

aku pernah jatuh cinta padamu,
dan sudah kuterima kekalahanku.
tapi tidak ingin kuikhlaskan kehilanganmu.. tidak ingin kuulangi mengemisi kehadiranmu..

kembalilah padaku bro. duduklah di sampingku, dengarkan ceritaku.
ingatkan aku,

kemana jalanku pulang. 




Sunday, May 27, 2012

i wish you

you were, taller.
because it surprisingly, makes me feel more secure.

you were, more honest.
because so many things you didn't share, and i feel like an idiot when i knew it by myself.


you were, closer.
because so may times i feel you away, literally and emotionally.


you were, here, not there.
because here i am, sitting alone, writing about you.


i wish you were cuddling me, just like Gerry doing now for me.




Sunday, May 20, 2012

Tahapan Jatuh Cinta [Three]

Tahap 3. Menyudahinya


di dekapmu aku merasa tergenapi.
terselamatkan dari sepi yang membungkam nyali
denganmu, aku temukan teman perjalanan yang melengkapi
dimensi yang menyedot semua gravitasi




suatu hari yang hening, aku temukan nurani berteriak nyaring
kita tak bisa lagi bersembunyi, kita tak pernah ingin lari lagi
aku tak tahu harus dimana meletakkan nyeri
kecuali selesai sampai disini. 


tak ada lagi kita, tak bisa ada lagi kita


miliaran kata seolah sepakat untuk tak bisa hadir
cinta itu ingin tamat, tapi hati ini tak mau ucapkan selamat
hanya k.o.s.o.n.g 
hanya h.e.n.i.n.g
hanya pelukan panjang yang aku harap bisa mengakumulasi rindu yang segera memberontak


"sayang, bukankah sudah kuperingatkan. jangan mencintaiku sebanyak itu.
 sakitku tak ingin kubagi. rinduku biarlah aku yang mengemasi, 
 menyeretnya melawan hari tanpamu.
 tak ada yang mencintaiku seperti ini, 
 maka izinkanlah aku tetap mengenangnya seperti ini, seperti hari ini.
 ini tentang kita, dan sebentar saja aku ingin lupa....       kita tak diizinkan bersama" 


aku mencintaimu, seperti yang bisa diucapkan angin pada kincir yang menghempasnya pergi.
aku mencintaimu, seperti yang tak henti diucapkan mendung pada hujan yang membuatnya tiada. 


tak perlu sepanjang hari untuk menyadari, 
kau-lah sang sinar mentari. 


aku melepasmu pergi. menyudahi petualangan dalam mimpi. 

Tahapan Jatuh Cinta [Two]



Tahap 2. Menemukan yang Terhilang

poros jagat raya sekarang ada di badanmu. 
kemana kau pergi, kesanalah bumiku menghadap. 
rasanya salah kalau menghadirkanmu di kepala, tapi aku menikmatinya 
untuk seribu satu alasan.
tapi kenapa butuh alasan? dan tujuan? 
menikmati hangatnya matamu saja, sudah hadiah untuk miskinnya hari-hariku lalu.

sampai aku tahu ada yang berbeda.
tidak lagi 2 orang asing yang menyapa dalam keanehan
kita sudah bicara dalam bahasa yang hanya bisa dimengerti kita.
sandi-sandi morse yang seukuran cahaya mata, tak terukur kecepatannya

cukup tahu, kau sudah bersamaku. 

k.i.t.a berdua setuju untuk bertemu, di alam itu. 
sebuah limbo yang memenjarakan kita dalam waktu yang tak punya tenaga. 
hanya berotasi dalam diam yang membuat detak jantung jadi simfoni megah 
yang setiap nadanya, 
adalah bahagia. 

tak perlu hadiah kata "aku juga" 
kau hanya memberiku mata itu. 
dan setiap jengkal tubuh kini adalah bagian dari pemujaan, pengabdian, penyerahan.
cinta juga yang akhirnya menyapa, 
menyatukan yang terserak, meniadakan yang teryakini, 
menyetujui yang semula tak ada, menjadi nyata

kau..
kutemukan apa yang selama ini terhilang.





Tahapan Jatuh Cinta [One]

Tahap 1. AHA moment


dunia masih berputar di porosnya, menyelamatkan pagi, menyudahi malam
aku hanya mengikuti saputannya, melangkah tanpa masalah
matahari tahu caranya pulang pergi, udara tahu caranya menghidupi bumi
aku tahu caranya menjadi tak sepi, menggenapi nyali, menjadi hidup dengan tak ingin mati.


aku hanya satu dari banyak manusia yang tahu hidup bergulir ke satu arah : maju.
dan siapa yang tahu kalau hari ini akan berbeda
karena keputusanku untuk ada di lantai itu, hari itu, detik itu.


aku sudah lalui triliunan detik tanpa cela, dan semua terhilang dalam jejak bias tanpa cerita
siapa sangka dari sekian banyak waktu yang kita habiskan bersama,
hari ini, 
kau mencuri sebuah diantaranya.
1 detik, yang tak punya nama, selain.. AHA.


kau menghentikan rotasi bumi.


membuat kaki tertanam di lantai dan detik jatuh ke dekapan
kakiku tertanam dalam ruang, 
dan aku dilempar dalam limbo tak berbelas kasihan -namun kupertahankan.
kau merekonstruksi semua teori di kepala, kau meniadakan waktu


lewat sebuah senyuman. lewat mata yang tersembunyi. 
lewat langkah sekejap yang menghilang di koridor
lalu sudah. kau menangkap momenku. 
aha moment-ku. 


Tuesday, March 20, 2012

Jatuh Cinta Sekali?


Berapa banyak diantara kalian yang beruntung bisa memeluk dunia di dalam matanya?

Menyapa pagi lewat baunya yang tak pernah bisa kau singkirkan

Mengantar siang lewat peluknya yang mengucapkan “jangan lupa makan”

Bagaimana dengan malam, saat kau memaksa matahari tunduk pada kharismanya yang lebih terang?


Seberapa sering kau merasakannya untuk seseorang?


Akui dalam hati,

Cinta terbesar adalah yang membuatmu lebih dari berani

Cinta sebenarnya adalah yang membuatmu tak punya pilihan lain selain mengikuti hati

Meski akhirnya itu meremukkanmu, dalam kenyerian yang tak berhenti memaki


Benarkah seumur hidup kita hanya jatuh cinta satu kali?

Bagaimana kalau bisa dua-tiga kali?

Manakah yang kau ingin sebut cinta sejati?

Mereka yang tak bisa kau tinggalkan, atau mereka yang tak bisa kau miliki, tapi kau rindukan?


Tak bisa kau tinggalkan, atau tak bisa kau miliki tapi kau rindukan?

Kau mengeluh nyaring, tapi tak ingin ada yang dengar

Kau menangis nyeri, tapi melumatnya dalam riang tapi tak bernyawa

Kau mencuri waktu untuk menghadirkannya di kepala

Menemuinya cukup sekali sehari, memunculkan berani meski hanya bisa didengar udara


Kau tak perlu repot meniadakannya

Karena cinta yang sebenarnya tak pernah mati

Meski sudah terlalu banyak bertransformasi,

Mereka akan selalu tersedia dalam jagat raya,

Menyatukan kalian dalam rindu yang saling sapa,


Meski dalam diam, meski dalam huruf yang bisa dihapus, meski dalam kesederhanaan yang melenggang santai diantara siang


Kau hanya tahu, cukup tahu,

Dia itu cinta, cinta itu dia.

Dan hanya pernah sekali ada, lalu hilang tak lahir dan tak juga mati.


Dia itu cinta, cinta itu dia.