Tuesday, August 23, 2011

Tentang pria yang belum tertemukan

YA, MALAM INI saya ditelpon sahabat saya yang baru saja mengumumkan status 'non-available'-nya. Saya jujur kaget banget, bukan hanya karena proses PDKTnya yang sangat cepat tapi juga karena cowoknya ini juga kenalan saya di SMA-teman sekelas yang malah sama sekali nggak pernah saya gubris keberadaannya.

saya benar-benar kaget dengan cara Tuhan mempertemukan mereka. sekedar iseng saling sapa di BBM! Saya juga salut karena cowok ini sudah bisa mengajak sahabat saya ke rumahnya, bertemu orang tuanya bahkan di kopi darat yang pertama!

akhirnya hal yang membuat saya tercengang adalah kata-kata sahabat saya -yang paling jarang pacaran- ini :
"gue juga berharap lu bahagia, dapetin pria yang lu mau! makanya ti, lu jangan terlalu pilih-pilih! serahin sama Tuhan. gue udah nggak pikirin cinta gue, gw titip semuanya sama Allah. Biar Allah yang milihin cowoknya dan biarin dia datang ke hidup gue"
:tsk::tsk::tsk::tsk:

PILIH-PILIH!! :hilo:
NGGAK MIKIRIN CINTA:galit:

dan saya berakhir 20 menit di perjalanan sambil memikirkan jawaban untuk 1 pertanyaan itu "Pria seperti apa yang saya mau sebenarnya?"
lalu saya terhenyak lagi.. lho kok 'pria yang saya mau', bukannya kalau liat statement sahabat saya harusnya 'pasrahin semua sama Tuhan'??

saya jadi mutung!
kenapa saya masih available dan sahabat-sahabat saya nggak?
akhirnya saya meng-ekstraksi sendiri ide-ide yang berseliweran di kepala saya.

baiklah ini akhirnya menjadi pengakuan. #siapingongnya
bahwa ya saya selalu memandang pria dari kecerdasannya. ini bisa kelihatan dari caranya berbicara, caranya mengomentari apa saja. tapi lebih dari itu saya akan sangat sangat melihat caranya merespon 'kecerdasan' saya.

...we can be clever at one thing, but we cannot clever at everything..

jadi cara pria merespon kecerdasan saya, saya anggap sebagai kelengkapan puzzlenya melengkapi kehidupan saya. dan sungguhlah saya hanya bisa sungguh-sungguh jatuh cinta hanya pada pria yang saya anggap lebih pintar dari saya #gongpertama

saya nggak pernah melihat seseorang dari status sosial atau ekonominya. mungkin jabatan dan gaji penting bagi sebagian pria, tapi justru pria yang akan saya hormati adalah bukan siapa dirinya hari ini, tapi bagaimana ia memandang dirinya di masa depan. yup, mimpi itu sexy! #gongkedua

dasar-dasar budaya juga penting saya masukkan dalam list ini. karena sejauh-jauhnya saya bermimpi, saya belum pernah mimpi punya suami/pacar orang non-pulau jawa. #gongketiga

dan #gongjuaranya adalah bahwa ketiga hal itu sudah saya pertimbangkan bahkan ketika saya sedang berpikir "hm.. lucu banget sih ketawanya ni orang!"
:sweaty:


Kalau ketiganya anda sebut berlebihan, saya nggak setuju. karena saya hanya berusaha jujur pada apa yang saya rasakan dan harapkan.

di 1 sisi saya percaya pada teori keikhlasan dan kepasrahan tadi yang akan memimpin kita pada ketenangan sampai menemukan jawabannya (baca: pria yang tepat). tapi di sisi yang lain, saya masih percaya pada daya tarik menarik, bahwa apa yang kamu inginkan akan datang persis seperti itu. dan dengan teori yang kedua, saya yakin pria yang membuat saya jatuh cinta sampai saat ini, ya se-sederhana pria yang nggak membuat saya frustasi sendiri "aduhhh maksudnya apa sih ini? ngomong apa sih dia! ngapain sih dia!"

saya sendiri berpegangan pada kebeningan hati saya untuk melihat (bukan memilih ya) pria yang datang dan pergi dari hidup saya. Beberapa yang sudah pergi adalah pria yang tadinya saya yakini bisa menyempurnakan saya, tapi kemudian di epilognya saya pahami bahwa kehadiran itu bukan hanya mengenai daya tarik menarik, tapi juga buah keputusan.

mereka yang memutuskan pergi dari saya, apakah masih pantas ditunggui?

saya sendiri nggak khawatir dengan hidup saya, saya merasa sepenuhnya bisa menghandle hidup sendirian. tapi sendiri bukan kesempurnaan, saya pun tak pernah berhenti menunggu:

sampai titik dimana pria yang membuat saya tertawa, tersipu, tersenyum, terkagum-kagum, teryakini.. akan datang dalam daur hidup dengan skenario yang semanis seringan selucu novel chick-lit

Keikhlasan.. baiklah saya pun tak ngotot pada Tuhan. Tidakkah Ia sudah menunjukkan kepatahhatian yang menampar? saya pun tak berhak marah padaNya tentang apapun.. saya hanya punya hidup untuk ditunggui jalan ceritanya.

maka saya rangkum ikhlas menjadi sesederhana : tak marah-marah dengan apa yang sudah digariskanNya sampai hari ini dan selalu tersenyum menyambut Twitter Display Affection yang berseliweran dengan sengaja pura-pura tidak tahu emosi para jomblo.

bagi para jomblo: sudahlah, mengada-ada alasan untuk bersama seseorang, hanya memulai sebuah cerita yang akan kamu sesali. biarkan semuanya terjadi dengan skenario apa adanya.

some kind of man makes you know you have to go with the flow. but one man, can suddenly makes you decided to going and start flowing!#Alfie

No comments:

Post a Comment

feel free to feedback :)

There was an error in this gadget