Sunday, June 30, 2013

My 2nd Anniversary


“I never promised you a happy ending..
you never said you wouldn’t make me cry”
Autumn goodbye- Britney Spears


Di momen 2 tahun anniversary saya dengan sekelompok manusia luar biasa yang dengan innocent sepakat menamakan dirinya “Rangers” dan dikenal di antara client sebagai “Klix Digital”, saya akhirnya memberanikan diri menulis tentang Klix-lagi. 1 tahun lalu, di anniversary kami yang pertama, tulisan saya ternyata menginspirasi beberapa orang. Maaf, bukan tulisan saya, tapi kejatuh cintaan saya pada Klix, menginspirasi beberapa orang.



Dan hari ini temanya masih sama, saya masih sangat jatuh cinta pada Klix.


Tapi ini bukan tentang saya.


Ini tentang satu dimensi waktu, yang sudah mengambil banyak hal, pergi. Ini tentang satu dimensi rasa, yang saking kompleksnya tidak bisa diwakili kata-kata. Ini tentang satu dimensi dimana hal-hal diambil, dan hal lainnya diberi kaki, untuk lari.


Tapi bersamanya, saya dibawa berpetualang.
Saya -somehow- berkembang.


Di Klix saya belajar, bahwa lebih dari pekerjaan yang kami lakukan, kami berbagi passion dan pelajaran. Semua kanak-kanak yang terkagum-kagum melihat dunia, dan bersama-sama kami belajar mewarnai, menggunting, membentuk dan menemukan hal baru. Bersama mereka, saya menemukan keluarga, yang menerbangkan definisi saya tentang pekerjaan dan mengantarkan saya pada seluruh jiwa yang terasa cukup dan ingin bertahan lebih dari apapun yang saya bisa.


Saat itu, saya ingin menerbangkan Klix setinggi apapun yang saya mampu.




Lupakan dulu tentang hari ini, mari kita lempar semua pada memori yang melabrak saya dalam diam. Memori yang masih dengan bangga, saya simpan, teman.


Beberapa dari kita –sebagian besar, datang dengan modal pengetahuan nol besar di bidang ini. di agency lain, mungkin dipanggil interview pun tidak. Siapa yang selalu percaya kita bisa? Ya, Mereka. 2 guardian kita, yang memutuskan percaya. 2 guardian kesayangan kita. Banyak diantara kanak-kanak yang mereka rekrut, berubah jadi orang-orang terbaik di bidangnya. Beberapa dari kita, merasa menemukan jiwa dan telpon recruitment dari agensi lain tak pernah berhenti? Ya kan? :) Semua bermula dari sana, dari hati kecil mereka, yang tak perbah berhenti percaya kita.


Kita berkembang bersama. Tak ada yang pernah merasa jadi guru, semuanya melebur sebagai murid dalam kenaifan dan semangat penuh untuk maju. Dari ke-nol besar-an itu kita justru punya hati seluas Times Square untuk diisi ide dan pengetahuan. Energi anak-anak yang merasa bodoh- ternyata sudah menggagas kita melesat jauh dari garis start. Dalam waktu singkat, kita memenangkan banyak hal.


Well ya, Summer Festival that brought us to be The Best Indonesian Digital Agency for the biggest world wide company, was hilarious- I must say. Di tahun pertama kebersamaan kita, Klix jadi The Best Digital Agency versi mereka. Bersama-sama kita juga melahirkan situs perbankan terbesar se-Indonesia, memenangkan beberapa pitching bergengsi, melahirkan satu per satu produk terobosan digital yang bernilai buat orang banyak. Bersama kita melewatkan tahun penuh prestasi, dan memori.

Ulang tahun Mbak Adit waktu kita dengan gila membuat video spesial dan hashtag berantai? Atau tahun selanjutnya waktu kita hack website sendiri dan membiarkannya berteriak histeris –entah dimana? Ulang tahun Mas Mu’min waktu slogan-slogan pemilihan Lurah ditembakkan ke dinding dan kita berjoget dangdut sambil pesta mendoan? It happened, can’t believe it.


Apa bahan bakarnya teman?


Energi kita terbentuk dari, persahabatan. Yang membuat kita jadi team yang solid dan pantang pulang sebelum selesai. Yeah, accountnya nggak pulang kan kalau creativenya lembur? :) Persahabatan, membuat satu orang menjadi dorongan yang lain.



Sampai, satu saat..


beberapa diantara kita beranjak besar, dan memutuskan lulus lebih cepat. Meninggalkan gunting yang sama, kertas warna-warni yang berserakan.


Saya pikir saya bisa tetap memegang mimpi itu, sampai saya sadar, energi itu habis terkikis waktu. Kesempatan untuk berbagi kenaifan, hilang di perjalanan yang sudah terlanjur saya beli tiketnya.


Saya tidak lagi dikelilingi anak-anak kecil naif yang ingin belajar. Saya kehabisan energi untuk mempertahankan kepolosan dan keingintahuan. saya, ditinggalkan, dalam memori dan mimpi yang susah payah saya biarkan hidup dari jam 9 pagi sampai 6 sore.

...



Saat itu, saya putuskan jadi anak bodoh lagi.


Dari Account saya menyebrang ke Strategist. Keputusan yang untuk beberapa orang, dianggap bodoh & salah, tapi buat saya, sudah memberi makan jiwa lebih dari semua hal yang saya minta. Lagi, 2 guardian saya mengizinkannya terjadi.


Saya selalu ingin jadi yang terbaik.


Tapi lebih dari apapun, saya tidak pernah ingin menjadi orang lain. Saya sudah dikelilingi sahabat-sahabat yang percaya saya, saya tidak pernah ingin membenamkan mereka demi kepala saya tegak mendongak. Saat saya diam, saya pastikan itu karena keinginan saya. dan saat saya bersuara, itulah yang saya percaya. Saya tahu, banyak yang salah paham tentang saya. Biarlah mereka percaya apa yang ingin mereka percaya. My heart made a call, I don’t know if they want/can to hear it or not :)


Saya membawa satu hati lebih kaya saat saya pergi dari Klix, kelak.


Saya sudah bertemu sahabat-sahabat yang akan saya sayangi seumur hidup, kalian tahu itu. Saya lakukan apa saja untuk membanggakan kalian. Saya rasa sudah mengantongi saat terbaik yang bisa dibawa seseorang yang sebodoh saya.


Lagi, saya dedikasikan tulisan ini untuk semua hal yang sudah Klix lakukan untuk hidup saya di 2 tahun terakhir. Semua keberanian dan kepercayaan diri yang lahir karena perjalanan itu. Semua ilmu dan rasa memiliki yang tak akan pernah lagi bisa diambil dari otak dan hati saya. kalian sudah hidup di dalam sini, bersama dengan semua kenangan, indah, yang tak akan pernah terjadi kalau dulu, saya memutuskan hinggap di rumah lain.





Dear Rangers, 
Sayangnya,
Kita hanya meminjam waktu
Untuk sekedar sempat berkenalan, dan tumbuh besar dalam kesamaan rasa
Kita hanya pengisi warna warni cerita, yang punya halaman akhir untuk ditamatkan bersama
Kita pada akhirnya, melesat ke arah berbeda dan menamatkan cerita dengan berbeda.
Saya bangga bisa menjadi bagian dari cerita ini.


Sebagian dari kita harus menyadari kalau keretanya sudah berhenti lama. Ia kehilangan tempat dan harus turun segera. Sebagian lainnya harus menyadari kalau tiketnya anti refund dan memutuskan bergelantungan, dengan energi selama mungkin, untuk bertahan. Sebagian lainnya merasa bukan keduanya, karena ia bahkan tak ada di kereta itu. Mari belikan ia tiket baru untuk berpetualang, mengulang.





1 July 2011- 1 July 2013.
Happy 2nd Anniversary with Klix, Djatya.
proud of yourself, you did all your best.



I love you, Rangers.


Nggak perlu nunggu resign untuk bilang itu. Saya tak punya ruangan lagi untuk melhat sekeliling dan merasa sesak. Air mata saya habis tahun lalu, saat kalian, team terbaik yang saya bisa hadirkan di mimpi, satu per satu, pergi.


Dan ya, sekarang saya tersenyum, sambil meminta kalian memikirkan.. kita pernah disana.





PS : yes we DID won The BEST DIGITAL CAMPAIGN 2013 at Bubu Award. I even checked directly to the one who actually holding the judge’s file. WE WON. KLIX Digital won for the best idea, the most creative & excellent execution, with most effective result. Unless you were not there when we struggling made all of those things happened, you may celebrate it guys !!
 
“memories can fade

but my heart has a place for the smile on your face

and maybe someday

we can be more than friends

love will find us again”

Autumn Goodbye- Britney Spears

listen here :   
http://www.youtube.com/watch?v=JWx87aQRMyc





Love, 
Tya

Friday, May 10, 2013

#whatiremember Tolak Angin


Demam tinggi dan sendirian di kamar kos adalah kutukan untuk setiap pendatang di Jakarta. Tak ada keluarga yang bisa membelikanmu obat. Aku mengutuk diri sendiri kenapa sampai sakit.

Sudah 2 hari tak ada kabar darimu. Seperti biasa, menjelang pitching penting biasanya kau tak mau diganggu. Mengisolasi diri di ruangan dengan setumpuk puntung rokok dan bergelas-gelas bir. Pesanku yang terakhir “aku sakit” tidak terkirim.

Tipe pria penggila kerja biasanya seksi di mataku. Bukan karena kesibukannya, tapi passion yang bisa kulihat, energi dan keseriusan yang menurutku harus dimiliki pria manapun. Aku penggila kerja, semata-mata karena aku suka pekerjaanku. Dan ingin tumbuh bersama jiwa semangat dan passion yang sama.

Dan itu juga sebabku sakit. Aku terlalu banyak lembur. Mengerjakan hal-hal yang seharusnya bisa ditunda. Sudah kuduga aku tak bersahabat dengan AC di atas jam 12 malam. Dan aku melakukannya 3 hari berturut-turut.

Mbak! Mbak” pintu kamarku diketuk
aku menyeret diri ke depan pintu dan membukanya. Ada Mbak Siti, penjaga kosan, membawa pesan.
“ada tamu Mbak” katanya

aku segera memakai jaket dan bergegas keluar. Tak mengharapkan tamu, dan siapa yang merasa bisa datang tanpa memberi tahu. Persis saat aku membuka pintu depan, kau memasuki pagar sambil membawa …. Air mineral galon.

….. aku hanya bengong melihatnya datang , sambil membawa bukan cuma 1 tapi DUA air mineral galon.
“langsung dibawa ke kamar aja ya?” tanpa menunggu aba-aba kau memasuki rumah dan langsung menuju kamar. Mbak Siti masih menunggu di depan pagar, juga bengong karena ini jam 10 malam.

Aku menatap punggungmu yang baru saja selesai menerbangkan galon kedua ke kamarku. Aku bersender di pintu yang terbuka. Belum berkata apa-apa. Masih heran ada orang yang 2 hari tanpa kabar, sekarang ada di kamarku jam 10 malam, mengantar 2 galon air mineral.

Kau menghampiriku, menempelkan tangan di keningku.
“you will be just fine” katanya sambil sibuk mencari sesuatu di saku celana.

Kau mengeluarkan sachet berwarna kuning. Dia keluarkan semuanya di atas mejaku, 1,2,5,8,10, DUA BELAS sachet Tolak Angin. Aku masih kehabisan kata-kata.

“I’m sorry I can’t be here when you sick. But they will.” Katamu menunjuk tumpukan sachet itu.
“istirahat ya.. cepet sembuh” kau mencium pipiku pelan. Dan langsung menuju keluar.

Rasanya marah. 
Rindu. 
Marah. 
Rindu.

Aku bergegas keluar dan menemuinya sebatas pagar. Kau sudah di dalam mobil. Kau membuka jendela memandangiku. Tanpa suara aku ucapkan kata itu “I love you”, kau membalasnya dengan gerakan bibir juga “I love you too..” dan mobilmu bergegas pergi, kembali ke kantor atau entah kemana.

Aku kembali ke kamar dan memandangi selusin Tolak Angin itu sedih. bagiku tak ada yang lebih baik selain 30 menit bersamamu, tapi Tolak Angin ini rasanya cukup saat ini. Aku mengirim pesan “udah diminum Tolak Anginnya. Makasih ya bodoh” terkirim dan terbaca, tapi tanpa balasan.

=================================

sambil mengigil lemah aku meminum 2 Tolak Angin. Ini obat wajib di apotik pribadiku. Entah sekarang atau malam hari 4 tahun lalu, rasanya masih sama. Pahit, tapi hangat, dan ada kamu di dalam sana.

Miss you too.

#whatiremember : Masker


Kau duduk bersila bersamaku, menghadap cermin. 
Aku tersenyum dengan mataku dan kau menyeringai mengejek. Sepiring kecil adonan masker masih basah tergeletak di antara kita. Dan kau menatapku di cermin.

“rasanya dingin-dingin gitu ya?”

aku mengangguk geli. Ada penasaran di nada suaramu.

Aku mengambil piring maskernya dan memegangnya di depan wajahmu.

Kamu harus coba.. aku kirimkan telepati. Ada senyum geli 2 detik sebelum kuas maskernya menyapu wajahmu.



Dan disana, masker dingin di wajahku remuk perlahan. Menahan geli melihat wajah kita bermasker bengkuang – di depan cermin.



Jangan ngomong! Aku bertelepati lagi. Dan kau menunduk menahan tawa. Aku memandangimu, jauh dari kata gagah dengan masker itu. Tapi kau bersamaku, di closet mini ini. Melakukan hal bodoh yang nanti akan kita tertawakan bersama.



Kita berdua duduk menyender di lemari, menghadap dinding. Hening. Dan kau mulai mengetik di layar iPad.



Love to see you like that
              Kau serahkan ipadnya padaku.

You love me everyday
              Balasku

Even when you’re menyebalkan. Cuma ditahan aja. 
              Kau membalas lagi.

Me too
              Balasku singkat sambil mencubit perutnya. Masker keringnya luruh ke atas ipad. 
              Aku mengikik. 

Many times fight the feeling kalau kau lagi nagging. Nyatanya selalu ada cara/jalan that brings me back here. Again. And again. 
              Kau kembalikan lagi ipadnya ke tanganku, sebuah senyum lewat di matamu.

I thank you, then. 
              Aku tak menulis, itu terucap pelan di bibir kakuku,

Love this moment. 
              Katamu kembali di ipad

Funny, too. 
              Ujarku sambil masih mencoba menahan masker ini utuh selama mungkin.

I love you here, with me.  
              Tulisku, menutup pembicaraan di iPad. Kau mencium keningku pelan.



===================



aku menatap iPad di hadapan jendela, tulisan itu masih ada. Dan andai kau ada disini, kau akan tertawa bersamaku waktu mengingatnya.



Masih pukul 08.00 malam saat ku kunci pintu dan menyelinap ke balik selimut. Berharap ada kamu di pelupukku saat aku terlelap nanti.



Miss you too.

#whatiremember : Waving Gallery


Setumpuk catatan masih tergeletak di meja kantorku. Beberapa minutes meeting ini harus terkirim besok pagi. 3 meeting in a row dan semua hal yang terjadi di meeting itu harus tertulis dan dikirimkan ke client.

“hei masih banyak kerjaan nggak?” pesan di chat messenger muncul menutupi layar monitor.
“iya nih masih ada beberapa email lagi” balasku
“jam 10 cabut yuk” balasmu cepat
“setengah jam lagi? Mana selesai?” aku membalas lagi
“kalau selesai ya cabut kalau nggak, aku pulang duluan ya” katanya

aku memandang sekeliling. Aku tinggal sendirian di ruangan. di lantai atas mungkin masih ada orang tapi aku tidak akan diam saja kalau di atas juga ternyata kosong dan kamu satu-satunya manusia di gedung ini yang belum pulang.

Aku kerjakan semuanya kilat. 1 email terakhir dan BOOM!
“woy!” sebuah suara hampir membuatku terpental dari kursi
“e busyet!! Nggak bisa assalammualaikum gitu barangkali???” aku memegangi meja kuat-kuat, berharap tak perlu menendang apapun ke wajahmu.
“kalau aku pulang, kamu sendirian lho” kau menyender di cubicle-ku sambil membuat suara-suara sok seram.

......
“ini bukan jalan pulang kayanya” aku celingukan di dalam mobil
“siapa yang bilang mau nganter kamu pulang?” dia menyeringai di balik kemudi
dan aku pun sadar kata-kata “cabut” punya ribuan definisi.
Musik 30 Seconds to Mars menyalak keras dan tanganmu ribut mengetuk ngetuk setir. Aku tak kenal lagu ini hanya melihat judulnya di tampilan radio mobil tapi enak juga. Nanti aku tinggal minta MP3-nya.

“pernah keluar negeri?” tanyamu
“nope.” Jawabku singkat sambil menyadari kita baru saja masuk ke tol menuju bandara
“ingin pergi?” tanyamu lagi.
Aku mengangguk sambil bingung. “nggak punya paspor” jawabku singkat dan kau tergelak.

Turun dari mobil dengan bergegas, kau langsung menggandeng tanganku. Kau melewati banyak orang dengan gesit. Sampai tiba di terminal 1B.

Kau masih menggandengku menaiki tangga. Mulai kehilangan hiruk pikuk di terminal dan akhirnya hening. 

Hanya kita. 
Waving Gallery. 
aku bahkan tak tahu tempat ini ada.

“welcome to our first date” kau tersenyum dan langsung memandang lepas ke arah runway. Aku menatapmu sesaat sebelum tersenyum sendiri. Haha it’s a date?? Tangan kita berjauhan dan mata kita tidak memandangi satu sama lain. Tapi disana, hanya berdua, melihat pesawat lepas landas dan mendarat, adalah kencan aneh yang harus kubilang, istimewa.

Udara malam itu dingin, dan sesaat sebelum kelingkingmu menggamit kelingkingku, kau bilang.. “I love you. And I know you love me too.”


30 Seconds to Mars memekakkan telingaku. Sebungkus roti dan sebotol air minum menggantikanmu di sampingku. Sendiri di Waving Gallery. Aku pejamkan mata dan mengingat seperti apa rupamu di kencan pertama itu. I love you, and I know you love me too.

Miss you too.

Sunday, April 21, 2013

[PART TWO-HABIS] Tentang Ibu


.....

Disitu gw lihat seorang perempuan keras yang punya tekad. Demi suaminya yang lagi terpuruk, dia harus bangkit. Demi anak-anaknya dia harus terlihat kuat. Walaupun ada kemunduran besar dalam ekonomi keluarga, Ibu tetap mengusahakan yang terbaik buat anak-anaknya. Dan suaminya.

Ibu adalah istri yang luar biasa. Semarah-marahnya beliau sama Bapak, akan selalu ada teh manis hangat di meja waktu pagi dan sore. Baju Bapak tetap bersih dan disetrika rapi. Paling kalau lagi marah besar, Ibu pindah ke kamar anak-anaknya. Kadang menangis dalam tidur.

Entah berapa kali gw lihat Ibu ngangkat galon seorang diri, ganti gas sendiri, ganti bohlam lampu atau benerin tirai. Ibu selalu bilang sama gw, jangan pernah jadi perempuan yang bergantung di kaki laki-laki. But more than that she shows me that she’s Dad’s strength. Nggak peduli semarah apapun, Bapak ya pulang ke rumah. Minum tehnya dan pakai baju setrikaan Ibu.

Dan datang lagi cobaan itu, waktu keluarga kami dimusuhi tetangga karena bapak menolak buat bergabung di serikat pekerja yang memprotes PHK. Gw diludahin seorang ibu-tetangga sebelah rumah. Gw dimaki-maki, dan diludahi. Ibulah yang maju buat membela gw. Baru kemudian gw tahu semua yang beliau bilang ke orang itu dan gw ngakak sejadinya. What a power that mom has to protect her kids!!! SEE?! I HAVE SUPER MOM!

Life goes on until today. Ibu & Bapak alhamdulillah sehat. Sejak Bapak punya pekerjaan baru, Ibu berhenti jualan makanan dan join catering, instead. Sampai sekarang di rumah Ibu nggak punya pembantu. Entah udah berapa kali gw minta cari pembantu, ibu ogah-ogahan. Gw inget Ibu pernah bilang Ibu merasa berguna kalau bisa ngerjain semuanya sendiri, atau cuma karena ibu nggak cepat cocok sama pembantu.

Keharmonisan Ibu dan Bapak yang udah melampaui usia 25 tahun, makin kuat sekarang. Justru di usia 50 tahun, Ibu dan Bapak makin mesra. Berantem pasti sering tapi mungkin karena anak-anaknya semakin besar, mereka pada akhirnya sadar mereka cuma punya satu sama lain. Di Hpnya Ibu namain Bapak A.SINYO. sounds weird tapi setelah gw tanya artinya, ternyata Sigara ning nyowo, atau …wait for it… belahan jiwa.

Ibu has shown me how hard it is to be a woman, and wife, and MOM at the same time. Beliau pernah ngalamin di bawah, dan stress karena nggak bisa nunjukin itu sama anak-anaknya. Hidup Ibu adalah tentang suami dan anak-anak yang dicintainya. Kebahagiaan ibu adalah dengan tetap jadi pusat jagat raya itu, jagat raya suami dan anak-anaknya setiap dibutuhkan. Merasa bermanfaat dan dibutuhkan.

YA! ITU DIA! bener kata artikel itu, mom should stop being a BETTER mom, mom should be a HAPPIER mom. And what makes ‘em happy is by being the center of family, no matter how busy she is, no matter how busy her family is. SHE’S HAPPY BEING that way. SHE’S HAPPY being MOM.

Ibu nggak keberatan pulang malam dan dimintain masak, karena dengan itu beliau bisa lihat betapa anak-anaknya kangen masakannya. Ibu nggak keberatan benerin kancing Bapak yang lepas, early in the morning, karena dengan begitu Bapak bisa berangkat kerja dengan ucapan terima kasih –yang sometimes disampaikan dengan kasih sayang. IBU bahagia dengan jadi IBU. Her whole life and breath is about it.

And I love her more than anything in this world.
I love Bapak too, of course.
I dedicated this blog for Rr. Resmiana Eko Wiyati who decided to get married on a such young age, and decided to deliver me to this world. Decided to give the best for me and decided to always be IT for the rest of her life. To be my Mom, to be Kiki’s mom, to be Rian’s mom and to be Ny. Ridjatmoko.

I dedicated this blog to honour her strength that surely make me who I am today, and her determination to be my favorite person in the entire world. I give her a privilege pass to my deepest heart and stay there with my warmest love and respect.

Selamat Ulang Tahun Ibu. 24 April 2013.
Semoga Ibu panjang umur dan selalu sehat. Bisa bikinin tya terong balado terenak sedunia-yang tya belum tahu masaknya gimana. Tya mulai suka masak, doa Ibu sama Allah terkabul :)))) Maafin tya belum bisa naikin pangkat Ibu jadi Nenek. And I love you for not judging me and respect me for what I decided until today.

Akhirnya pertanyaan itu terjawab juga.
apa yang paling membahagiakan buat IBU?


….. Menjadi Ibu.  

[PART ONE] Tentang Ibu



Hari ini hari Kartini. The day when Indonesian woman celebrate their freedom to choose and their right as human being. Gw salut sama R.A Kartini yang pada zaman itu udah memperjuangkan hak pendidikan buat wanita dengan mendirikan sekolah. Menuntut perempuan supaya bebas menentukan pilihannya buat masa depan sendiri. Karena sampai tahun 2013 ini, di belahan dunia sana, masih banyak perempuan yang tertindas sama norma sosial dan jadi mahluk kelas rendah yang nggak punya hak.

Ironisnya, hari ini gw justru punya BEBAN buat membuka layer tentang ke-perempuan-an ini di level IBU dan ISTRI. 2 peran yang membedakan perempuan “saja” dengan perempuan LUAR BIASA.

Gw punya deadline. 3x24 jam lagi. Buat menemukan layer terdalam ini dan ngebungkusnya jadi strategi yang ciamik. Masalahnya adalah, GW BAHKAN NUTUP MATA buat hal ini. Hal ini yang disebut P_E_R_N_I_K_A_H_A_N dimana punya anak disana adalah K_O_N_S_E_K_U_E_N_S_I.

Tuhan punya strategi buat bikin gw mikirin tentang ini. Dikejar lewat norma sosial gw bisa tutup kuping, eh Tuhan mempertemukan gw dengan hal ini di kerjaan. “Bensin” gw buat tetap jadi TYA. Mau nggak mau gw stuck dengan kenyataan buat membuka layer ini satu per satu.

Syukurnya, gw punya IBU.
Dan dari sanalah gw akan mulai perjalanan ini. Perjalanan buat menguak pertanyaan penting :  apa yang paling membahagiakan buat IBU


I have a SUPER WOMAN mom.

Ibu menikah umur 24 tahun, dan punya anak pertama –gw- di usia 25 tahun. Ibu adalah anak sulung dari 6 bersaudara. Sejak kecil diurus oleh neneknya bukan ibu kandungnya (karena adiknya banyak). Sebagai Taurus, anak pertama dan hidupnya nggak mudah, Ibu adalah orang yang keras kepala. Untung hal itu dibalut perawakan yang “perempuan banget”, jadilah Ibu perawat baik hati yang mempesona banyak pria. Sampai Ibu ketemu Bapak. Mereka jatuh cinta dan LDR Bandung-Semarang, sampai akhirnya menikah.

Ibu melepas karirnya sebagai calon PNS di RS Karyadi Semarang, demi Bapak (Mungkin sebenarnya demi keluarga impiannya). Ibu melewatkan tahun pertama dengan kehamilannya, jauh dari Suami. Saat itu Bapak kerja di Bandung, dan Ibu di Ambarawa. Dan lahirlah Rezki Jatianing Warni ini di akhir tahun 1986 itu. Dimulailah perjalanannya sebagai manusia yang baru.

Anak pertama. Bayi pertama yang cengeng dan nyebelin. Entah berapa kali mungkin Ibu terpikir menyesal di usia yang sangat muda, sold her soul to this little devil. Ibu dan Bapak langsung mandiri, punya rumah sendiri walaupun ngontrak. Dan tumbuhlah tya kecil dengan bahagia, punya segalanya yang diimpikan anak seusianya. Tiap tahun ada pesta setiap 4 Nov, punya sepeda roda tiga, perhatian orang tua sepenuhnya.. sampai kutu kupret ini datang, Rizky Nawang Diandini, lahir 1990. Dan tya kecil jadi kakak, yang harus sayang sama adiknya. Waktu Kiki umur 2 tahun, akhirnya kami sekeluarga pindah ke rumah sendiri. Rumah kecil tipe 21 KPR BTN yang dibangun sedikit demi sedikit. Ibu masih ketawa kalau ceritain gimana tya kecil bolak balik bantu ngangkut semen, dengan ember kecilnya sendiri. Kiki masih nenen.

Sampai kemudian keajaiban itu datang. Ibu hamil lagi ketiga kalinya, 4 tahun setelah Kiki lahir, dan 8 tahun setelah tya lahir. Ibu 32 tahun, ini mungkin kesempatan terakhirnya buat melahirkan anak laki-laki, yang selalu diimpiin Bapak. Dan Tuhan sayang banget sama keluarga kami, seorang anak laki-laki lahir tahun itu. Rian Jatiawang, yang sebenarnya kepanjangan dari RIjatmoko ANna JAtianing naWANG.

3 orang anak, 2 sudah bersekolah dengan rumah yang belum lunas. Di tahun 1998 Ibu akhirnya memutuskan kerja lagi. Tya SMP masih ingat betapa sedihnya tiap pagi kalau Ibu berangkat kerja. Drama drama drama. Rian kecil nangis karena harus diurus pembantu. Kiki di pojokan, makan. Kadang gw heran tu orang punya perasaan nggak sih.

Dan kehidupan pun perlahan membaik, dari mulai kulkas, TV lebih besar, tempat tidur sendiri, dan mobil mungil. Bapak sering ngajak kami bertiga lihat pesawat sambil nunggu Ibu pulang kerja di hari Minggu., dan kami akan nunggu berjam-jam denger cerita Bapak di dalam mobil tanpa AC itu. Dan Kami sepakat, nggak ada yang lebih enak dari masakan Ibu. Walaupun capek tapi setiap pagi Ibu masih masakin esreng-esreng, nasi goreng tanpa kecap yang enak banget.

Sampai kemudian Ibu diberhentikan dari pekerjaannya karena perekonomian sedang buruk. Nggak cukup disitu, Bapak juga diPHK tahun 2002. It’s painful and one of my worst part of life. Hubungan Ibu & Bapak memburuk dan mereka sering sekali bertengkar. Sampai Ibu akhirnya memutuskan harus ambil tindakan. Ibu akhirnya berjualan makanan kecil-kecilan, dibantu bapak yang bertugas belanja setiap paginya. I woke up at 2 AM and knew that they went. They work really really hard, and it’s painful to remember. 

...... bersambung
There was an error in this gadget