Thursday, August 23, 2012

[PART 1] ketidakwarasan.



Kemenangan terbesar hati atas otak, adalah waktu bangun pagi
Waktu udara sepertinya punya zat yang memfilter segalanya,
Menjadi jelas, mudah terbaca.
Saat itulah aku tahu,
seberat itu aku sudah patah hati.

Aku hanya bisa benamkan kepala di bawah bantal
Berharap gelap membawa wajahnya pergi
Tapi tanpa perlu mengemis pada otak,
Memori sudah membuatnya datang lagi, lagi, lagi

Lalu aku coba meraba pelan-pelan
Seberapa sakit itu sudah terasa
tanpa merasa perlu kasihan,
Ia hadir lagi di hantaman keras sepotong kesimpulan :

Dia sudah pergi.

/
/
/
/

Lalu jam, menit dan detik sepakat berhenti
Memberikan impuls otak untuk memilah dan meyakini
Bahwa cinta untuknya pernah sebesar dunia
Bahwa cinta padanya pernah membuatku merasa begitu sempurna
Dan cinta itu sudah dikemasinya pergi

Dan cinta yang sama, membunuhku dalam s.e.p.i

Berhari-hari..
Berbulan-bulan..
Bertahun-tahun..

Apa yang harus kulakukan dengan kenyataan,
Bahwa kau hadir di setiap partikel mimpi?

Kau cukup ADA, dan semuanya terasa lengkap dan baik-baik saja

Bagian yang paling sulit,
Adalah merelakanmu menjadi satu dari milyaran manusia
Dari ‘kelak’ menjadi kata ‘pernah’ dan ‘tamat’
Bagaimana aku bisa mengekstraksi mimpi,
Meniadakan namamu, dan mulai dari awal lagi?





dear, kumohon, kembalikan hatiku.



No comments:

Post a Comment

feel free to feedback :)

There was an error in this gadget